Akur Minta Proyek Bakal Makam Dilanjutkan

PDIP Jabar Mediasi Polemik Batu Satangtung di Kuningan, Akur Minta Proyek Bakal Makam Dilanjutkan

Kamis, 30 Juli 2020 20:32

 Akur Minta Proyek Bakal Makam Dilanjutkan

TribunCirebon.com/Ahmad Ripai

Bupati Kuningan H Acep Purnama Berfoto dengan Keluarga Akur di pasebn Cigugur. 

Laporan Kontributor Kuningan, Ahmad Ripai

TRIBUNCIREBON.COM, KUNINGAN – Polemik pembangunan Tugu/Batu Satangtung, terletak di Curug Goong, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, mendapat perhatian dari Dewan Pimpinan Daerah Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (DPD PDIP) Jawa Barat.

Partai yang diketuai Ono Surono ini dengan didampingi Bupati Kuningan H Acep Purnama dan Wakil Bupati HM Ridho Suganda serta Ketua DPRD Kuningan Nuzul Rachdy bareng Anggota Fraksi PDIP DPRD lainnya, berkunjung ke kediaman Pupuhu Akur Sunda Wiwitan Tri Panca Tunggal, Djati Kusumah, di Kelurahan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Kamis (30/7/2020).

Rombongan partai berlambang kepala banteng moncong putih, itu mendapat sambutan dari keluarga besar Akur Sunda Wiwitan Kuningan. Terlihat Istri Djati Kusumah yakni Emalia Wigarningsih dan sejumlah putra – putrinya, Gumirat Barna Alam, Juwita, Dewi Kanti dan Pangaping Girang Akur Sunda Wiwitan, yakni Okky Satrio, turut menyambut.

 Juwita yang merupakan perwakilan keluarga Akur Sunda Wiwitan ini, mengatakan, Pembangunan Tugu/ Batu Satangtung ini merupakan pesan dari Rama Djati Kusumah. 

“Terima kasih atas kunjungan bisa bersilaturahmi langsung ke sini,” ungkap Juwita saat mengawali perbincangan dengan rombongan tadi.

Emalia Wigarningsih mengatakan, pihaknya hanya ingin mendapat pelayanan sebagai masyarakat biasanya.

“Tolong pak minta rehab nama atau identitas kami yang selama ini menjadi penilaian beragam dari masyarakat lainnya,” katanya.

Sebagai anak bangsa, kata Emalia, pihaknya tidak ingin macam – macam dalam menjalani kehidupan, baik dengan lingkungan sekitar dan sosial.

“Kami sekadar menjalankan sebagaimana tertuang dalam Pancasila yang menjadi simbol bangsa,” kata Emalia diamini Gumirat Barna Alam.

Emalia pun mengatakan, polemik ini bukan merupakan konflik internal keluarga. 

“Kami tegaskan ini bukan masalah keluarga, hanya orang tertentu yang beranggapan demikian. Toh, kami terbuka kepada lingkungan tentang keberadaan kami sebagai warga adat,” ungkapnya.

Emalia berharap pembangunan bakal makam bisa dilanjutkan kembali.

“Umur siapa yang tahu, kami berharap pak Bupati sebagai kepala dayeuh bisa memberikan wewenangnya,” ujar Emalia lagi. (*)

https://cirebon.tribunnews.com/2020/…am-dilanjutkan

Semoga masalah nya cepat terselesaikan

Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *