Kepunahan Massal Terbesar di Bumi Bukan pada Era Dinosaurus

Kepunahan Massal Terbesar di Bumi Bukan pada Era Dinosaurus

JakartaBumi sudah teramat tua. Dalam perjalanannya, tempat yang kita huni ini sudah melewati lima kepunahan massal berdasarkan catatan fosil. Namun rupanya ada kepunahan yang lebih massal dan tua dari lima zaman tersebut.

Sebuah bukti baru dari bebatuan purba yang ditemukan di Kanada, mengungkapkan kematian tertua dalam sejarah planet Bumi. Diduga kuat kepunahan ini terjadi pada organisme bersel tunggal, sekitar 2 miliar tahun lalu.

Hasil analisis para peneliti menunjukkan peristiwa tersebut jauh lebih besar dari kepunahan massal yang sudah diungkap ilmu pengetahuan, bahkan lebih mematikan dari kepunahan dinosaurus yang selama ini dianggap sebagai kepunahan terbesar.

Dikutip dari Business Insider, Senin (9/9/2019), pada masa ini, kepunahan massal terjadi pada makhluk mikroorganisme yang membangun atmosfer Bumi. Akibatnya, dua pertiga kehidupan tumbuhan dan hewan di Bumi lenyap. Di sisi lain, kepunahan ini memberi kesempatan pada hewan yang lebih besar untuk berkembang.

“Ini memperlihatkan, bahkan ketika makhluk di Bumi seluruhnya terdiri dari mikroba, Bumi ini masih punya sejarah kepunahan akbar yang tidak terekam dalam catatan fosil,” kata Malcolm Hodgskiss, salah satu peneliti dalam hasil temuan yang dipublikasikan dalam jurnal ilmiah Proceedings of the National Academy of Sciences.


Penelusuran di Luar Fosil

Ketika kita ingin meneliti mikroorganisme yang hidup sekitar 2 miliar tahun lalu, mencari tahu lewat fosil saja tidak cukup. Alhasil, para peneliti juga meneliti dari sisa lumpur dan bebatuan zaman purba.

Mereka menemukan bebatuan jenis kristal barit di Belcher Island, Hudson Bay, Kanada yang merekam bukti kandungan oksigen di atmosfer pada masanya. Sekitar 2 miliar tahun lalu, diketahui terjadi perubahan besar di biosfer ketika Bumi masih padat dihuni organisme hidup.

Ada dua kemungkinan, oksigen di Bumi pada masa itu terlalu sedikit atau justru terlalu banyak. Namun berdasarkan catatan, fenomena ini mendukung teori ‘oxygen overshoot’ atau kadar oksigen berlebihan.

Sesuai ketentuannya, fotosintesis dari mikroorganisme kuno dan batuan yang terkikis menghasilkan banyak oksigen yang akhirnya habis. Organisme penyerap oksigen yang sama, menghabiskan pasokan nutrisi mereka dan mati.

Yang terjadi saat ini di Bumi, oksigen yang dikonsumsi dan dihabiskan kurang lebih menyeimbangkan. Namun dengan mengetahui peran ‘oxygen overshoot’, bisa membantu ilmuwan menyelidiki apa yang akan terjadi jika Bumi memiliki terlalu banyak oksigen atau kekurangan oksigen.

Simak Video “Riset Lenovo: Ada Tiga Klasifikasi Gamers yang Berbeda Kebutuhan
[Gambas:Video 20detik]
(rns/krs)

Admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *